![]() |
![]() |
|||||||||
|
Cara pengolahan yang lama adalah dengan cara memeras sarang berserta dengan isinya. Hal ini menyebabkan madu menjadi "kotor" dan terlihat kurang higienis karena madu akan bercampur dengan sarang, anakan lebah dan juga kotoran yang ada didalam sarang. Pengolahan paska panen yang baru adalah dengan cara sarang dibuka bagian lilin penutup sarangnya, kemudian sarang diiris tipis-tipis secara horisontal supaya madu bisa keluar lebih cepat. Irisan tersebut kemudian di letakan di atas kain (ditiriskan) supaya madu menetes ke dalam tempat penampungan. Hal ini menjadikan madu lebih higienis (tidak bercampur dengan kotoran dan keringat), tidak bercampur dengan anak lebah sehingga madu bisa lebih tahan lama. Setelah itu madu ditest dengan refraktometer untuk mengetahui kadar air madu. Rata-rata kadar air madu hutan berkisar antara 24 - 26 %. Tapi beberapa daerah bisa memanen dengan kadar air hanya 20 %. Setelah itu madu dimasukan dalam jerigen untuk pengemasan lebih lanjut. |
||||||||||
| |
© 2005 - 2008, all right reserved maduhutan.com | kerjasama antara Dian Niaga Jakarta dengan Jaringan Madu Hutan Indonesia |